
Dalam rangka mendukung proses pemulihan pascabencana yang melanda wilayah Kota Bengkulu, sekelompok relawan dari berbagai elemen Muhammadiyah menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Belajar Ceria Pasca Bencana” pada 2–10 Juni 2025. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Raudhatul Jannah, Betungan, Kota Bengkulu, dan bertepatan dengan masa Ujian Akhir Semester (UAS) anak-anak sekolah.
Program ini digagas oleh Tim Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Bengkulu, berkolaborasi dengan PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Bengkulu, Lazismu, dan komunitas peduli pendidikan lainnya. Yang membanggakan, mahasiswa Sosiologi Universitas Muhammadiyah Bengkulu juga ikut aktif sebagai relawan penyelenggara dan pendamping belajar dalam kegiatan ini.
Keterlibatan mahasiswa Program Studi Sosiologi bukan hanya sebagai relawan, tetapi juga sebagai bagian dari proses penguatan sosiologi terapan di tengah masyarakat. Mereka membantu dalam mendesain metode pembelajaran yang interaktif, mendampingi anak-anak secara langsung, hingga melakukan observasi sosial terkait dampak psikologis dan pendidikan pasca bencana.
“Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat relevan bagi mahasiswa Sosiologi. Mereka tidak hanya mengaplikasikan teori solidaritas dan pemulihan sosial, tetapi juga terlibat langsung dalam proses rekonstruksi sosial di lapangan.” ujar Siti Baroroh, M.Si., Kepala Laboratorium Sosiologi UMBengkulu.
Program “Belajar Ceria Pasca Bencana” menghadirkan kelas bimbingan belajar yang menyenangkan, inklusif, dan penuh semangat. Anak-anak mendapatkan pendampingan dalam berbagai mata pelajaran penting seperti:
-Matematika,
-Bahasa Indonesia,
-Bahasa Inggris,
-Baca Tulis Berhitung (Calistung),
-Pendidikan Agama Islam,
-Akidah Akhlak,
Materi pelengkap lainnya sesuai kebutuhan UAS.
Setiap kelas dipandu oleh relawan dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum yang telah dibekali pendekatan pedagogis berbasis trauma healing dan penguatan karakter.
“Ini bukan sekadar kegiatan belajar, tapi juga proses membangun kembali harapan. Mahasiswa belajar langsung bagaimana teori-teori sosial bekerja dalam situasi darurat dan bagaimana ilmu sosiologi berperan nyata,” tambah Ibu Siti Baroroh.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan gotong royong dan sinergi dari berbagai pihak: lembaga, komunitas, dan individu, termasuk mahasiswa sebagai agen perubahan.
Kegiatan “Belajar Ceria Pasca Bencana” menjadi bukti bahwa ilmu sosiologi bukan hanya milik ruang kelas, tetapi juga bagian dari proses pemulihan sosial yang nyata di tengah masyarakat. Laboratorium Sosiologi UMBengkulu akan terus mendorong mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan yang berdampak langsung, sebagai bagian dari pembelajaran yang utuh, bermakna, dan berorientasi pada perubahan sosial.





Tinggalkan Balasan